Posts

Marah

Image
Aku bukanlah seseorang yang disukai banyak orang Aku bukanlah seseorang yang berani untuk mengambil rintangan Aku bukanlah seseorang yang teguh dan sabar dalam menghadapi cobaan Aku bukanlah seseorang yang mampu melawan saat mereka menyalahkan Aku hanya bisa diam Aku hanya bisa mengangguk patuh Berdiri lemas, tanpa seorangpun berada di sisiku Menatap kosong, tanpa apapun dalam pikiranku Mulut tak berbicara Telinga seolah tak berguna Aku berlari membawa diri Aku berteriak mencari jati diri Aku terisak mengetahui tak ada pertolongan Aku terjatuh menabrak dinding ketakutan Kosong Hampa Sepi Aku benci sendiri Aku benci untuk selalu tak dimengerti Aku benci untuk selalu diam namun dalam hati mencaci Aku benci kehidupan ini Satu-dua-tiga titik air mulai jatuh Tiga-dua-satu waktu mulai terhenti Berteriak, aku memaki Menangis, aku tersedu Marah, aku mengadu

Hujan

Image
Butiran-butiran air meluncur cepat menuju dataran Semua terdiam, terhenti Hanya lantunan lagu yang berbunyi Berbunyi memanjakan kedua telinga Semua tertidur pulas Semua sudah menyerah untuk menjadi pantas Berlayar ke alam mimpi Berlayar sampai ke tepi

Penawar Kebosanan

Image
(entah diambil kapan, tapi milikku kok) Sore hari yang indah. Sore hari yang tenang, namun kosong. Kosong karena bosan. Kosong karena hal yang terus aku lakukan. Terduduk di lantai masjid sambil berpikir tentang apa yang harus ku lakukan nanti. Waktu seakan menjadi kereta super patas. Waktu seakan menjadi jet super cepat. Tak terlihat. Tak terhentikan. Kebosanan yang terpupuk dalam diri seolah mencuat. Melebihi kesenangan hati yang terkurung dalam tempat gelap. Mencoba keluar namun waktu tak mengizinkan. Dia hanya memberi tumpangan pada kebosanan. Lalu menguasai diri ini. Lama menemukan solusi. Semua kebosan harus terhenti. Jenuh akan motivasi diri. Rapuh akan hausnya monopoli. Bergerak seperti robot. Menjalan perintah tanpa kreativitas. Duduk layaknya kursi. Berpikir layaknya CPU. Menulis layaknya keyboard. Lalu pergi tanpa ada yang diambil. Penawar yang aku cari. Sesuatu yang dapat membuat netral. Seperti garam dapur. Bukan positif. Bukan pula negatif.

Seorang Pluviophile

Image
Awan kembali menghitam, berkumpul menjadi besar. Bergerak bebas terbawa angin. Bergerak perlahan sampai akhirnya mencapai titik kebosanan lalu menjatuhkan semua emosinya. Butiran-butiran air jatuh bebas menuju permukaan. Menimbulkan aroma yang khas dan suara gemuruh yang menenangkan jiwa. Aku terdiam mengikuti alur yang dibawanya. Menelusuri waktu sampai akhirnya merasakan kerinduan. Rindu yang teramat sangat. Rindu yang sangat berat. Mencoba mengulangi momen di masa lalu dan merevisi setiap kesalahan. Keluarga yang aku cintai memutuskan untuk bergerak di luar batas. Tali penghubung mulai mengendur meyisakan seutas benang yang sangat tipis. Mencoba memperbaiki namun malah semakin buruk. Mencoba mengikat kembali namun malah menjadi kusut. Dan pada akhirnya, tali penghubung kusut itu digunting. Putus. Teman yang aku sayangi bagai bulan purnama yang jarang sekali muncul. Bertamu ketika ada perlu. Lalu pergi ketika semua urusan sudah selesai. Namun, teman terkadang menjadi tumpulnya se...

Puisi-3: Perasaan Hati

Image
(picture by Rain, 11/05/17, My Room) R intik hujan menemaniku Menembus udara yang sangat menusuk tubuhku Hijau daun, gelap pandangan tak menghalangiku Warna terlihat tidak sempurna Menyapu lembut hangatnya pandangan mata Menjadi seorang yang berbeda memang menyakitkan Banyak mimpi yang pupus di tengah jalan Dunia memang tempatnya diskriminasi Kadang seorang berbakat namun dieliminasi Sedangkan orang yang berduit sudah tentu terhindar dari diskualifikasi Sungguh rumit Membuat hati terasa diikat dengan tali yang saling terkait Membuat pedang terasa tumpul layaknya sumpit Rintik hujan menemaniku Menembus udara yang sangat menusuk tubuhku Telah kutulis untaian kata yang mencurahkan perasaan hatiku   (poetry by Rain, 11/05/17)

Puisi-2: Irasshai*.. New World

Image
(picture by Rain, 20/04/17, Balai Sartika) Alunan musik bermelodi Kipas berputar seolah menari Pemuda-pemudi hilir mudik mencari teman sejati Pemuda berjas sudah menjadi pria bukan lagi laki-laki Pemudi berkebaya sudah menjadi wanita, so beautifully Cerita kita belum berakhir sampai disini Jadilah pria dan wanita yang dapat membanggakan negeri Tak peduli waktu Tak peduli bencana akan memburu Kita akan te tap satu Selamat datang dunia baru Selamat tinggal XII Mipa 7-ku (poetry by Rain, 26/04/17)   *selamat datang 

Puisi-1: Kabut Mimpi

Image
    (picture by Rain, 20/04/17, Balai Sartika)   Ini bukan air hujan Bukan pula semprotan dari selang pemadam kebakaran Ini hanyalah air mata kesedihan yang memilukan Ketika seorang pemuda yang terbaring lemah tak berkesan Tidak mampu melakukan apa yang selalu diinginkan Pagar betis selalu menghalangi Menutup rapat pintu gerbang mimpi Melihat daun berharga berguguran, kurasa bukan masalah Harmonisasi kata yang sulit ditembangkan Melodi makian yang terus bergumam dalam perasaan  Dan nada tinggi yang mulai didengungkan oleh si pemuda tak berkesan (poetry by Rain, 22/04/17)